Semarang, 23 Januari 2012
Untuk Nanang, Seharusnya kuceritakan ini enam tahun lalu, tapi ya sudahlah. Simak suratku baik-baik.
Pernah sesekali, bukan, bukan sesekali, bahkan berkali-kali aku berpikir banyak yang kurang di hidupku. Tuhan bilang, Dia Maha Adil. Keadilan macam apa yang Dia berikan? Semacam mengambil ayahku beberapa tahun lalu? Aku merasa sepertinya Tuhan sedang menjahatiku.
Sampai ketika aku bertemu seorang bapak separuh baya. Bapak itu tak mampu melihat dengan mata kepalanya. Ya, beliau seorang tuna netra. Ketika kutanya bagaimana bisa dia berjalan selancar itu, beliau menjawab, “Tuhan Maha Baik, Nak. Dia membuatku buta namun menajamkan mata hati dan indra pendengaranku.”
Setahuku, beliau hampir tidak pernah lupa mengucap syukur atas segala yang telah ditakdirkan Tuhan padanya, termasuk kebutaan. Ini perkataan beliau yang paling kuingat :
“Yang tak terlihat bukan berarti tak ada. Mata kepala hanya melihat apa yang ingin dia lihat, sedang mata hati mampu melihat yang tak kasat dan sekelibat. Maka itu, selama ini bapak justru bersyukur atas kemampuan melihat yang tidak dapat orang normal lihat. Tuhan menciptakan segala sesuatunya bukan tanpa maksud, Nak. Pun kebutaanku. Dan mungkin juga Tuhan terlalu menyayangi bapak, Dia khawatir bapak akan dihanyutkan oleh daya tarik dunia yang nantinya justru menutup mata hati bapak. Tidakkah menurutmu itu mengerikan apabila benar terjadi?”
Sesaat aku malu mendengar beliau berbicara sebijak itu. Selama ini aku menilai diriku lebih mengerti persoalan di dunia sebab aku memiliki anggota tubuh tanpa kekurangan, tetapi bapak itu berhasil membuatku tertunduk mengoreksi diri.
Selama ini aku menyalahkan Tuhan atas kepergian ayahku, tapi aku tak pernah sadar bahwa Tuhan sedang berbahasa padaku. Tanpa adanya ayah di sampingku, aku jadi bisa jauh lebih mandiri. Aku boleh berbangga sebab saat ini aku beberapa tingkat lebih handal dalam ilmu ikhlas dan sabar dibanding anak kebanyakan. Itu yang Tuhan mau, dan sudah seharusnya aku berucap syukur atas itu setiap hari.
Ah iya, apa kamu ingin tahu siapa beliau? Aku rutin bertemu bapak itu semasa SMA, beliau penjual kincir angin mainan di SD dekat rumahku. Aku sering menemuinya sepulang sekolah karena searah dengan jalan pulang. Ya Nanang, beliau ayahmu.
Ayahmu tulus memeras keringat demi menghidupi keluarga, dan demi membiayai pendidikanmu hingga saat ini. Jangan perdulikan mereka yang mencemooh kamu dan ayahmu selama ini. Biar saja mulut mereka kotor oleh debu cemoohan mereka terhadapmu dan ayahmu.
Tak perlu menutupi identitas ayahmu. Jika aku jadi kamu, aku akan tunjukan pada semua orang bahwa aku memiliki ayah terhebat. Tidak ada sisi memalukan dari ayahmu, Nanang. Memiliki ayah seperti ayahmu adalah suatu kebanggaan. Beliau kesayangan Tuhan. :)
Salam hangat untuk ayahmu, katakan aku merindukan nasihat-nasihatnya. Dan, jangan ragu membawa beliau ke acara wisuda sarjana kita bulan depan ya, agar aku juga bisa bertemu lagi dengannya. :)
Maaf kuselipkan surat ini di bukumu, sebab kupikir dengan membaca kau jadi bisa berpikir ulang daripada mendengar langsung seribu nasihatku yang mungkin malah membuat kupingmu kegerahan.
Tertanda, teman sekelasmu dulu,
Meira