27 August 2016

Aku pemabuk yang datang ke dalam ruang
Menari-nari seolah riang
Tapi semalam aku tidur berdiri
Menunggu pesan datang kembali

Kamu serupa kata tak bergerak
Sedang aku si bisu yang buta nada
Hingga kita bertemu di bawah pena
Lalu langit buat irama

Tinggi dan sejuk
Aku hafal bahumu
Sempat aku tak tau malu
Mengetuk pintu karena rindu

Kamu yang sempat sembunyi dalam lipatan kertas
Lalu membuka lagi syair yang belum tuntas
Tiga puluh hari untuk mengenang yang entah
Kamu pinta
Bukan enggan tapi tak habis itu pikiran

Kini kita adalah buku puisi
Dalam sampul dan prakata baru
Kemudian cinta yang mendenyutkan
Hingga tiap kata seolah hidup
Lalu si buta bisa baca dan si bisu bisa bersenandung

Kita memang sulit
Tak semua bisa dengar walau mereka banyak bicara

Pagi ini, pagi ke-730 aku mencintaimu di pertandingan kedua
Semoga cinta menangkan segala

Dari aku,
Untuk semestaku, Eivan Hadhy Prabowo.


18 May 2015

Selamat malam, Oma. 

Mungkin jika hari ini oma masih berada di sini, kita akan bersama-sama meniup lilin ulang tahun oma yang ke-78. Tahun ini terasa sangat berbeda. Tidak ada rasa antusias untuk kembali ke Jakarta demi berkumpul bersama keluarga besar untuk merayakan ulang tahun oma, pula tak ada sepotongpun kue ulang tahun yang berada di sudut meja ruang tamu oma, tak ada pula suara tawa oma, papa dan mama karena Syaira berkali gagal mematikan lilin. Demi Tuhan, saya sangat rindu saat-saat seperti itu. 
Oma, apakah Oma berkenan meminta kepada Tuhan untuk malam ini singgah di mimpi saya agar saya dapat mengucap selamat ulang tahun dan memeluk oma dengan erat seperti tahun-tahun sebelumnya?

Oma, saya ingin sekali bicara dengan Oma. Ada banyak hal yang belum saya ceritakan pada Oma. Teringat dulu sering sekali kita membicarakan hal tidak penting melalui telepon. Berawal dari membicarakan pendidikan saya, hingga rambut oma yang kian lama kian rontok akibat efek samping pengobatan, dan lalu diakhiri dengan menangis bersama karena rindu yang teramat. Apa kita masih bisa melakukannya lagi? 

Oma, saya ingin meminta maaf karena belum sempat membelikan Oma sebuah parfum yang Oma minta. Saya juga minta maaf karena baru sempat mengenakan gaun hitam pemberian Oma pada saat saya menghantar Oma ke pusara. Dan saya pun belum sempat mengabulkan permohonan terakhir Oma yang jujur saja sangat sulit untuk saya lakukan pada saat ini.

Selalu ada perih ketika membayangkan wajahmu yang begitu lelah. Selalu ada nafas yang sesak ketika mengingat ada pintamu yang belum ku lakukan. Selalu ada mata yang basah ketika mengingat tubuhmu yang terbujur kaku dan sangat pucat. Namun selalu akan ada lutut dan dahi yang bersimpuh untuk mengucap namamu dalam doa. Semoga Oma baik di sana. 

Sekali lagi, selamat ulang tahun. Saya sangat mencintai Oma. 

25 November 2014

Malam Hujan

Jemari kaku rupa tugu
Daun kecil layu menggigil
Berbisik akar sepi di luar
Sepi..
Pun hujan enggan tahan
Semut-semut mati bunuh diri,
sebab sedih tanpa tepi

08 November 2014

Ayah, Lekas Sembuh

Ayah, aku tau mungkin aku tak selalu turut tutur mu
Tapi selalu ada rindu di balik pesan singkat ku

Ayah, ku dengar suaramu parau
Terdengar antusias namun sedikit lemah

Ayah, tawamu buatku lega
Apalagi jika aku penyebabnya

Ayah, semoga kita lekas bersua
Ada banyak cerita yang harus ku bagi denganmu

Ayah, ku harap kau lekas sembuh
Masih ada sesuatu yang belum kau lakukan untukku,
menjabat tanganku dengan rasa bangga..


Rindu, Mati Suri

Dua musim lewat tanpa permisi
Dua angkuh saling mengaku
Pada akhirnya, aku sadar 
Ombak tak akan selamanya menghantam diri
Ada kala ia lelah dan bersandar pada bebatuan
Sayang, terima kasih atas kebaikanmu menawarkan diri untuk mengisi kembali cangkirku yang cukup lama kosong
Cangkir yang sempat kau teguk sendiri dan kita hempas ke lantai bersama

Selama ini kita terlalu memberhalakan benci
Semoga lepas peluk bisa jadi cara bangunkan kembali rindu yang sempat mati suri

08 August 2014

Sekitar 2 tahun lalu, melalui seseorang saya dikenalkan pada seorang wanita paruh baya. Wanita itu tinggal seorang diri di sebuah kota kecil di pulau Jawa. Sosoknya begitu lembut tanpa celah, bicaranya tegas dan sangat cerdas. Entah apa yang membuat kami begitu nyaman satu sama lain, namun bercerita dengannya membuat saya banyak tertawa dan banyak memperoleh ilmu yang bermanfaat. Sering kali beliau tak sengaja mengenang almarhum suaminya dan kemudian membuatnya meneteskan air mata. Darinya, saya belajar banyak tentang kehidupan, tentang apa arti kebersamaan dan kesendirian. Walau kami tidak terikat dalam hubungan darah, namun saya menganggap beliau sebagai nenek kandung saya, begitu pula sebaliknya. Saya rutin menghubunginya untuk sekedar menanyakan kabar dan bercengkrama ringan. Pernah suatu saat saya mengunjunginya secara tiba-tiba. Beliau terkejut dan terlihat sangat senang. Kami jalan-jalan mengelilingi alun-alun kota di malam hari. Tawanya dengan nada yang sangat khas selalu terdengar di sepanjang perjalanan kami. Belum lama saya berniat mengunjunginya kembali, namun karena satu dan lain hal niat tersebut belum sempat saya laksanakan. Kemudian saya mendapatkan kabar bahwa beliau sedang sakit keras. Saya begitu khawatir dan terkejut, sebab beberapa hari sebelumnya saya menghubunginya dan beliau mengatakan bahwa beliau dalam keadaan baik saja. Selama dua hari saya tidak bisa tidur dengan nyenyak memikirkan keadaannya, sebab saya tidak bisa berada di sisinya karena saya sedang berada di kota yang berbeda. Setiap saat saya berdoa memohon kepada Tuhan untuk kesembuhannya. Namun Tuhan berkata lain, Tuhan mungkin rindu padanya atau mungkin Tuhan ingin segera mengobati rasa rindu wanita itu kepada almarhum suaminya. Walau raga tak mampu berpeluk, namun doa selalu mengiring. 

Selamat jalan, Eyang Wuryani Hartono. Tuhan pasti akan memberimu tempat yang sangat indah di sana. Dua tahun adalah waktu yang terlalu singkat untuk mengenal wanita sesempurnamu. Semoga suatu saat saya dapat memeluk pusaramu...

20 April 2014

Aku ranting, sedang engkau angin yang tenang. Seolah tak ingin bercengkrama, hembus berlalu begitu saja.