Detik menyeret langkah seirama kedip kelopak sayu
Sepasang burung gereja bersama melantunkan bait-bait musikalisasi puisi
Fajar yang terlalu cantik untuk aku yang biasa saja
Teh hangat menyudut malu di tepi meja
Kuteguknya anggun
Sayang, bibirku terluka
Tenang, kepal saja kapasmu yang lembut
Aku terbiasa meniup-niup lukaku sendiri