Never feel tired of finding the happiness
30 September 2012
26 September 2012
Aksara Untuk Senja
Entah berapa lama aku hanya memandangi aksara sedang tergeletak tanpa daya di kepalaku, jumlahnya tak kalah banyak dengan dentuman detik yang sejak tadi terdengar sendu. Aku berharap dapat menyusunnya dengan rapi dan kuberi pita cantik di permukaannya untuk kemudian kuberikan sebagai hadiah kecil untuk senja yang indah. Senja yang selalu ada di sela-sela hariku yang temaram tertiup kepak malaikat. Dan untuk Matahari, kuharap kau tak terlalu bersemangat untuk membenamkan diri. Izinkan aku melihat senjaku lebih lama lagi.
24 September 2012
20 September 2012
19 September 2012
"Sampaikan kembali salamku untuk langitmu..."
Sungguh siang yang terik. Entah telah berapa ribu detik aku lewati dengan hanya berdiam sembari mengaduk-aduk segelas susu coklat dingin. Berdiam bukan berarti seluruh pikiranku ikut membeku. Justru ia semakin mencair dan tumpah begitu saja. Mungkin karena cangkir imajiku terlalu mungil, hingga tak sanggup menampung segala lamunan yang menetes deras ke dalamnya.
Kali ini aku kembali bergurau dengan saraf-saraf mikro di otakku. Tanpa sengaja aku tertawa mengingat hal itu. Bodoh sekali. Rupanya aku salah menafsirkan tawaranmu malam itu. Seperti saat melihat benang yang kusut, aku mencoba menariknya pelan-pelan. Hingga akhirnya aku tahu bahwa itu adalah seuntai benang yang masih saling berkaitan. Maka seperti itulah aku baru saja memahami kata-katamu. Seperti halnya penyesalan, aku pun sering datang terlambat. Sebelum kemudian kau mempersilahkanku masuk ke pikiranmu untuk sekedar bertamu atau menginap. Namun ternyata kau menginginkanku untuk tinggal lebih lama. Masih banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Hal yang sebenarnya kau tahu dan tak harus kau ketahui. Begitulah yang ku katakan kepadamu. Lalu kau bilang aku tak harus terburu-buru. Karena suatu saat kau yang akan datang lagi dengan mengetuk pintu dan mejadi tamu, kemudian menanyakan hal yang sama. Entahlah, tapi aku yakin saat ini kau sedang menikmati siang harimu. Pun aku. Bicarakan saja apa yang kau keluhkan. Seperti biasa, aku akan siap mendengar ceritamu. Namun bila kau rasa bicara padaku hanya mengikis waktumu dengan kesiaan, bicara saja pada cermin di dinding kamarmu, dan boleh kau ingat-ingat alasanku mengapa aku segan memulai percakapan denganmu. Semoga kau baik-baik saja. Sampaikan kembali salamku untuk langitmu...
18 September 2012
Payung Teduh - Rahasia
Tak ada sore dan udara menjadi segar
Tak ada gelap lalu mata enggan menatap
Tak ada bintang mati butiran pasir terbang ke langit
Telah hilang terserap matahari
Harum mawar membunuh bulan
Rahasia tetap diam tak terucap
Untuk itu semua aku mencarimu
Berikan tanganmu jabat jemariku
Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu
Berikan suaramu balas semua bisikanku
Memanggil namamu
Atau kau ingin aku berteriak sekencang-kencangnya
Agar seluruh ruangan ini bergetar oleh suaraku
15 September 2012
Rezeki yang Digantungkan
"Allah SWT telah menjamin rezeki bagi seluruh makhluk ciptaan-NYA. Tapi manusia juga wajib untuk menjemput jatah rezekinya tersebut. Menjemput berbeda dengan mencari. Karena menjemput sudah pasti ada, sedangkan mencari belum tentu ada."
- Muhammad Assad, NFQ -
10 September 2012
07 September 2012
Kurasa malam ini begitu senyap. Seperti sebuah sapaan senja yang tak bersahutan. Tubuhku sedikit lemas dan hangat. Hah...andai saja ibu ada di sini. Pasti Kau telah menyiapkan bubur hangat untuk makan malamku dan kemudian mengusap dahiku hingga aku mengetuk pintu mimpi. Sedangkan ayah bergegas menyelimutiku sebelum tubuhku menggigil. Aku rindu kalian, kesayanganku.
06 September 2012
*sigh*
Hah.....sudah lama sekali aku tidak bersua dengan blog-ku ini. Sepertinya jemariku terasa sedikit kaku dan kata-kata seperti telah menjadi puing yang berserakan di otakku. Sebenarnya ada banyak sekali cerita yang ingin aku semai disini. Apa daya, waktu lah memenjarakan aku dan jemariku menjauh dari keyboard hahaha berlebihan. Oh iya, sekarang aku sudah resmi menjadi mahasiswi hukum di sebuah perguruan tinggi negeri bernama UNDIP. Senang sekali rasanya dapat merasakan kebahagiaan yang terpancar dari senyum bangga ayah dan ibuku. Sebenarnya masuk fakultas hukum adalah cita-cita ayahku. Namun entah mengapa saat duduk di bangku kuliah, ayahku tidak mengambil jurusan ini. Maka dari itu, aku sebagai anak pertama harus lebih membuat ayahku bangga dengan menjadi mahasiswi hukum yang berprestasi.
Problemnya hanya satu, aku menjadi terpisah jarak yang begitu panjang dengan keluarga dan sahabat-sahabatku. Sedih sekali setiap aku mengingat mereka. Rasanya ingin cepat-cepat kembali ke kotaku dan memeluk mereka satu per satu. Namun aku masih mempunyai kewajiban di sini.
Aku titip kotaku, ya. Bilang dia, jangan nakal selama aku di sini. Jika ketahuan, akan ku jewer telinganya.
Aku rindu kalian...
Subscribe to:
Comments (Atom)



