19 September 2012

"Sampaikan kembali salamku untuk langitmu..."

Sungguh siang yang terik. Entah telah berapa ribu detik aku lewati dengan hanya berdiam sembari mengaduk-aduk segelas susu coklat dingin. Berdiam bukan berarti seluruh pikiranku ikut membeku. Justru ia semakin mencair dan tumpah begitu saja. Mungkin karena cangkir imajiku terlalu mungil, hingga tak sanggup menampung segala lamunan yang menetes deras ke dalamnya. 

Kali ini aku kembali bergurau dengan saraf-saraf mikro di otakku. Tanpa sengaja aku tertawa mengingat hal itu. Bodoh sekali. Rupanya aku salah menafsirkan tawaranmu malam itu. Seperti saat melihat benang yang kusut, aku mencoba menariknya pelan-pelan. Hingga akhirnya aku tahu bahwa itu adalah seuntai benang yang masih saling berkaitan. Maka seperti itulah aku baru saja memahami kata-katamu. Seperti halnya penyesalan, aku pun sering datang terlambat. Sebelum kemudian kau mempersilahkanku masuk ke pikiranmu untuk sekedar bertamu atau menginap. Namun ternyata kau menginginkanku untuk tinggal lebih lama. Masih banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Hal yang sebenarnya kau tahu dan tak harus kau ketahui. Begitulah yang ku katakan kepadamu. Lalu kau bilang aku tak harus terburu-buru. Karena suatu saat kau yang akan datang lagi dengan mengetuk pintu dan mejadi tamu, kemudian menanyakan hal yang sama. Entahlah, tapi aku yakin saat ini kau sedang menikmati siang harimu. Pun aku. Bicarakan saja apa yang kau keluhkan. Seperti biasa, aku akan siap mendengar ceritamu. Namun bila kau rasa bicara padaku hanya mengikis waktumu dengan kesiaan, bicara saja pada cermin di dinding kamarmu, dan boleh kau ingat-ingat alasanku mengapa aku segan memulai percakapan denganmu. Semoga kau baik-baik saja. Sampaikan kembali salamku untuk langitmu...

No comments:

Post a Comment