25 November 2014

Malam Hujan

Jemari kaku rupa tugu
Daun kecil layu menggigil
Berbisik akar sepi di luar
Sepi..
Pun hujan enggan tahan
Semut-semut mati bunuh diri,
sebab sedih tanpa tepi

08 November 2014

Ayah, Lekas Sembuh

Ayah, aku tau mungkin aku tak selalu turut tutur mu
Tapi selalu ada rindu di balik pesan singkat ku

Ayah, ku dengar suaramu parau
Terdengar antusias namun sedikit lemah

Ayah, tawamu buatku lega
Apalagi jika aku penyebabnya

Ayah, semoga kita lekas bersua
Ada banyak cerita yang harus ku bagi denganmu

Ayah, ku harap kau lekas sembuh
Masih ada sesuatu yang belum kau lakukan untukku,
menjabat tanganku dengan rasa bangga..


Rindu, Mati Suri

Dua musim lewat tanpa permisi
Dua angkuh saling mengaku
Pada akhirnya, aku sadar 
Ombak tak akan selamanya menghantam diri
Ada kala ia lelah dan bersandar pada bebatuan
Sayang, terima kasih atas kebaikanmu menawarkan diri untuk mengisi kembali cangkirku yang cukup lama kosong
Cangkir yang sempat kau teguk sendiri dan kita hempas ke lantai bersama

Selama ini kita terlalu memberhalakan benci
Semoga lepas peluk bisa jadi cara bangunkan kembali rindu yang sempat mati suri

08 August 2014

Sekitar 2 tahun lalu, melalui seseorang saya dikenalkan pada seorang wanita paruh baya. Wanita itu tinggal seorang diri di sebuah kota kecil di pulau Jawa. Sosoknya begitu lembut tanpa celah, bicaranya tegas dan sangat cerdas. Entah apa yang membuat kami begitu nyaman satu sama lain, namun bercerita dengannya membuat saya banyak tertawa dan banyak memperoleh ilmu yang bermanfaat. Sering kali beliau tak sengaja mengenang almarhum suaminya dan kemudian membuatnya meneteskan air mata. Darinya, saya belajar banyak tentang kehidupan, tentang apa arti kebersamaan dan kesendirian. Walau kami tidak terikat dalam hubungan darah, namun saya menganggap beliau sebagai nenek kandung saya, begitu pula sebaliknya. Saya rutin menghubunginya untuk sekedar menanyakan kabar dan bercengkrama ringan. Pernah suatu saat saya mengunjunginya secara tiba-tiba. Beliau terkejut dan terlihat sangat senang. Kami jalan-jalan mengelilingi alun-alun kota di malam hari. Tawanya dengan nada yang sangat khas selalu terdengar di sepanjang perjalanan kami. Belum lama saya berniat mengunjunginya kembali, namun karena satu dan lain hal niat tersebut belum sempat saya laksanakan. Kemudian saya mendapatkan kabar bahwa beliau sedang sakit keras. Saya begitu khawatir dan terkejut, sebab beberapa hari sebelumnya saya menghubunginya dan beliau mengatakan bahwa beliau dalam keadaan baik saja. Selama dua hari saya tidak bisa tidur dengan nyenyak memikirkan keadaannya, sebab saya tidak bisa berada di sisinya karena saya sedang berada di kota yang berbeda. Setiap saat saya berdoa memohon kepada Tuhan untuk kesembuhannya. Namun Tuhan berkata lain, Tuhan mungkin rindu padanya atau mungkin Tuhan ingin segera mengobati rasa rindu wanita itu kepada almarhum suaminya. Walau raga tak mampu berpeluk, namun doa selalu mengiring. 

Selamat jalan, Eyang Wuryani Hartono. Tuhan pasti akan memberimu tempat yang sangat indah di sana. Dua tahun adalah waktu yang terlalu singkat untuk mengenal wanita sesempurnamu. Semoga suatu saat saya dapat memeluk pusaramu...

20 April 2014

Aku ranting, sedang engkau angin yang tenang. Seolah tak ingin bercengkrama, hembus berlalu begitu saja.

14 March 2014

It's glad to know the heavy rain disappeared from your eyes and now I see a rainbow inside. I clap my hands for you cause I heard that you already find a great sky to stay. Now you have a lot of birds fly besides. You call it your friends and you laugh as loud as you can while singing together. Trust me, you're still the best melody I've ever heard that always be on my very first playlist. I'm happy. I'm really happy for you. Keep shining! :)