07 August 2013

Kupikir begini, kau seolah sedang berlarian di tepi danau dengan tangan kanan melepas balon-balon dan tangan kiri meremas remahan beling bekas pecahan cangkir kopi tadi sore. Jangan takut, aku siap merapatkan lukamu dengan doaku.
Dengar, kesayanganku. Doa selalu lebih panjang dari dua lengan yang dibentangkan. Jika tetiba kau tergulung ombak yang dibuat oleh pikiranmu sendiri, kau pasti tahu bagaimana cara menuju tepi.
Kau baik sekali. Hatimu seputih gaun pengantin pada pesta pernikahan yang gagal semalam. Bagaimana bisa aku melihatmu, sedang lenganku bersusah payah melipat jarak dan mengguntingi detik agar kita dapat bertemu kembali untuk sekedar melepas peluk sehangat teh manis buatanmu pada senja yang tak lebih mendung dari kelopakmu itu.
Sudahkah kau buka pintu rumahmu, Testa?
Disana, sejak semalam, menginap sebuah botol kaca berisi kertas kosong dan sebuah pena untuk kau tulis cerita tentang kura-kura danau yang bersuka cita. Mungkin itu sebaik-baik aku memaksamu berpesta dengan pikiranmu sendiri demi mengusir beberapa luka kecil di dadamu yang kau tiup-tiup sendiri sejak dua musim belakangan.