07 November 2013

Aku habis aksara
Bak pena berdiri tanpa tari
Hujan lebur di pelupuk
Dingin inap di rusuk
Matahari sembunyikanmu dari senja
Pandangmu begitu basah
Aku mengakar seperti lumut yang tabah

Berakhirlah seperti siang yang memberi cahaya pada senja tanpa dendam.
Di suatu malam, aku mendenyutkan namamu dalam sajak. 
Hingga di suatu pagi, tak ku dapati lagi sisa denyutnya. 
Semoga matamu masih teduh yang sama, walau tanpa aku berlindung di bawahnya.

06 September 2013

"Sedaritadi sepi berpamit namun enggan angkat kaki dari sajak yang tak berpenghuni. Sedang telah satu musim lewat tanpa permisi."

07 August 2013

Kupikir begini, kau seolah sedang berlarian di tepi danau dengan tangan kanan melepas balon-balon dan tangan kiri meremas remahan beling bekas pecahan cangkir kopi tadi sore. Jangan takut, aku siap merapatkan lukamu dengan doaku.
Dengar, kesayanganku. Doa selalu lebih panjang dari dua lengan yang dibentangkan. Jika tetiba kau tergulung ombak yang dibuat oleh pikiranmu sendiri, kau pasti tahu bagaimana cara menuju tepi.
Kau baik sekali. Hatimu seputih gaun pengantin pada pesta pernikahan yang gagal semalam. Bagaimana bisa aku melihatmu, sedang lenganku bersusah payah melipat jarak dan mengguntingi detik agar kita dapat bertemu kembali untuk sekedar melepas peluk sehangat teh manis buatanmu pada senja yang tak lebih mendung dari kelopakmu itu.
Sudahkah kau buka pintu rumahmu, Testa?
Disana, sejak semalam, menginap sebuah botol kaca berisi kertas kosong dan sebuah pena untuk kau tulis cerita tentang kura-kura danau yang bersuka cita. Mungkin itu sebaik-baik aku memaksamu berpesta dengan pikiranmu sendiri demi mengusir beberapa luka kecil di dadamu yang kau tiup-tiup sendiri sejak dua musim belakangan. 

18 June 2013

Tepi

Selami aku
Kau tau dalam palungku
Lupakan pelampung
Ombakku hantar ke tepi
Aku tau kau perenang yang handal

Setengah Tujuh Pagi

Detik menyeret langkah seirama kedip kelopak sayu
Sepasang burung gereja bersama melantunkan bait-bait musikalisasi puisi
Fajar yang terlalu cantik untuk aku yang biasa saja
Teh hangat menyudut malu di tepi meja 
Kuteguknya anggun
Sayang, bibirku terluka
Tenang, kepal saja kapasmu yang lembut
Aku terbiasa meniup-niup lukaku sendiri

26 May 2013

Kau, jadilah api, dan aku akan senantiasa menjadi abu yang menyertaimu bersama suara gugur dedaunan tersapu tarian angin pada suatu musim semi yang senyap

15 April 2013

Dan suatu ketika ampas pekat merunduk lalu mengendap di dasar cangkir, memisahkan diri sebab kopi jenuh pada sisa kepahitan