Di suatu waktu ketika warna langit serupa helai rambutmu
Sesuatu mengumpat dibalik tenggorokanku
Dan mendung terlelap di dalam kelopak mataku
Aku membisik di daun telingamu yang masih basah oleh embun pagi, sebuah reka di awal musim penghujan
Jauh sebelum senja-senja setelahnya
Ingin begitu kuat hingga kita memalingkan pandang dari sang pencipta rasa ingin
Aku hanya belum mampu berjalan di atas tanah kering ini seorang diri,
Sebab aku terbiasa melompat riang bersamamu di atas ombak dengan debur serupa tangga nada musik klasik
Jika kau lelah, bersandarlah pada karang, lalu angin akan menyanyikanmu lagu-lagu kesukaan kita,
dan bahuku senantiasa siap menjadi tempat kepulanganmu
Dari Aku
Kepada Kau yang Semestaku