15 December 2012

Di suatu waktu ketika warna langit serupa helai rambutmu
Sesuatu mengumpat dibalik tenggorokanku
Dan mendung terlelap di dalam kelopak mataku
Aku membisik di daun telingamu yang masih basah oleh embun pagi, sebuah reka di awal musim penghujan  
Jauh sebelum senja-senja setelahnya
Ingin begitu kuat hingga kita memalingkan pandang dari sang pencipta rasa ingin

Aku hanya belum mampu berjalan di atas tanah kering ini seorang diri,
Sebab aku terbiasa melompat riang bersamamu di atas ombak dengan debur serupa tangga nada musik klasik 
Jika kau lelah, bersandarlah pada karang, lalu angin akan menyanyikanmu lagu-lagu kesukaan kita,
dan bahuku senantiasa siap menjadi tempat kepulanganmu


Dari Aku
Kepada Kau yang Semestaku

06 December 2012

Baiklah, mentransmigrasikan amarah menuju iba kuakui memang keahlianmu. Jenaka sekali caramu menadahkan telapakmu demi memohon maafku haha. Sepertinya permainan kata ini sudah sedikit melampaui tema awal. Memang dalam bermain kata, kita perlu menjadi sedikit liar. Mencakar-cakar kotak imaji, menerkam aksara, mengunyahnya menjadi kata, lalu kita merasa kenyang setelah menelan semangkuk penuh frasa. Malam sudah mendesak jiwa kita untuk segera berkunjung ke lembah mimpi. Baiknya kita akhiri saja "Perang Kata" kita malam ini. Terimakasih telah bersedia meluangkan waktumu untuk merangkul aksara bersamaku. Selamat memejam, sahabat kata-ku ;)

http://raindyabiseka.wordpress.com/
Kuncup telah merekah saat embun mengecup dahannya, terik telah menyusup diam-diam ke dalam pori-pori saat mentari melepaskan percik demi percik apinya secara perlahan, angin malam telah mendekap raga hingga ujung jemari bergetar. Semua terlihat begitu wajar. Tak ada yang perlu diperbaiki. Satu lagi, aku bukan sang pemilik waktu. Kau bisa memintanya kepada Yang Maha Pemberi Waktu.
Dengar baik-baik, kali ini biarkan peranan kedua telingamu diambil alih oleh hatimu. Aku tak pernah mengatakan bahwa aksaramu kau susun untuk yang lain. Sepertinya kau melakukan kekeliruan dalam memahami kataku. Sudah kureka dan benar saja bahwa memang lidah dan jemarimu mahir berdansa bersama kata, namun tidak dengan hatimu. Hingga lagi-lagi kau terpeleset dan jatuh tertelungkup di atas terkaan isi hati yang tak sesuai dengan harap yang sejak senja kemarin telah ku tanam di dalam ingatan dan kuberi nisan di permukaannya.
Aku bukan semut yang merangkak menuju aksaramu demi memintamu merangkaikan kata-kata manis untukku. Jangan menjanjikan apapun, pula berkata terlalu manis padaku. Jangan paksa aku untuk menyusun jeruji besi untuk memenjarakan pujian-pujianmu yang sengaja kau susun untuk mencekik nadiku hingga helai demi helai petikan mawar terjun bebas berhamburan di atas piguraku.
Goresan? Aku tak sedang menggores. Cobalah sedikit bermain dengan ingatanmu. Aku tak pernah menggores apapun di atas pikiranku. Aku memahatnya. Agar ketika detik yang menggelitik teliga kita sudah lelah melakukan tugasnya hingga ia terlelap dan berhenti berlompatan, kata ini akan tetap menginap di dalam ruang imajimu tanpa meminta izin untuk kembali pulang.
Seperti lentera yang cahayanya berdansa di atas setetes rayuan yang mengalir ke sudut gelap pelupuk mataku, kata-katamu selalu membujuk asaku untuk memujanya dalam hening.

05 December 2012

Dear feelings, I'm sorry I can't make you all into words to complete other words as a pretty poem. I'm not a bird which every words it says always sounds like a song, nor a swan which everytime it moves seems like a dance.