Selamat malam, Oma.
Mungkin jika hari ini oma masih berada di sini, kita akan bersama-sama meniup lilin ulang tahun oma yang ke-78. Tahun ini terasa sangat berbeda. Tidak ada rasa antusias untuk kembali ke Jakarta demi berkumpul bersama keluarga besar untuk merayakan ulang tahun oma, pula tak ada sepotongpun kue ulang tahun yang berada di sudut meja ruang tamu oma, tak ada pula suara tawa oma, papa dan mama karena Syaira berkali gagal mematikan lilin. Demi Tuhan, saya sangat rindu saat-saat seperti itu.
Oma, apakah Oma berkenan meminta kepada Tuhan untuk malam ini singgah di mimpi saya agar saya dapat mengucap selamat ulang tahun dan memeluk oma dengan erat seperti tahun-tahun sebelumnya?
Oma, saya ingin sekali bicara dengan Oma. Ada banyak hal yang belum saya ceritakan pada Oma. Teringat dulu sering sekali kita membicarakan hal tidak penting melalui telepon. Berawal dari membicarakan pendidikan saya, hingga rambut oma yang kian lama kian rontok akibat efek samping pengobatan, dan lalu diakhiri dengan menangis bersama karena rindu yang teramat. Apa kita masih bisa melakukannya lagi?
Oma, saya ingin meminta maaf karena belum sempat membelikan Oma sebuah parfum yang Oma minta. Saya juga minta maaf karena baru sempat mengenakan gaun hitam pemberian Oma pada saat saya menghantar Oma ke pusara. Dan saya pun belum sempat mengabulkan permohonan terakhir Oma yang jujur saja sangat sulit untuk saya lakukan pada saat ini.
Selalu ada perih ketika membayangkan wajahmu yang begitu lelah. Selalu ada nafas yang sesak ketika mengingat ada pintamu yang belum ku lakukan. Selalu ada mata yang basah ketika mengingat tubuhmu yang terbujur kaku dan sangat pucat. Namun selalu akan ada lutut dan dahi yang bersimpuh untuk mengucap namamu dalam doa. Semoga Oma baik di sana.
Sekali lagi, selamat ulang tahun. Saya sangat mencintai Oma.
No comments:
Post a Comment