27 October 2012

Teh Hangat

       Sudah dua hari hujan terjun ke kulit bumi. Membiarkan dirinya jatuh ke atas kepalaku untuk kemudian hilang oleh sentuh handukku yang selembut jemari berkeringat. Aku sedikit menggigil. Namun mungkin tak seberapa bila dibandingkan dengan menggigilnya rumput yang sejak tadi tertunduk pasrah bermandi air langit. Sosok paruh baya menghampiriku dan menawariku secangkir teh. Kukatakan pada Beliau, biar aku sendiri saja yang membuatnya. Sengaja tak kutuangkan gula sebutirpun ke dalamnya. Sebab rindu sudah terlalu manis, mungkin secangkir teh tawar akan begitu hangat dan nikmat kuteguk bersama rindu. Atau untuk lebih menyempurnakan irama jarum panjang pada jam dinding di kamarku, aku dapat meneguknya sembari memandangi malaikat kecil yang tepampang di layar ponselku. Kalau sudah begini, apa yg membuat aku tak lagi mempercayai bahwa bahagia itu sederhana? :)

No comments:

Post a Comment