27 November 2012
Buku
Sedaritadi aku duduk di balkon dengan angin yang meraba-raba helai rambutku. Sejuknya membisik seperti sebait syair berbalut nada yang terdengar harmonis. Langit oranye merayuku untuk terus memandanginya. Benar saja, hanya dengan memandanginya aku dapat secepat kilat jatuh cinta padanya. Aku sedang membaca kumpulan sajak sebagai alat transportasiku ke alam bawah sadar. Sulit kupahami bait demi bait yang berbaris tertib di atas kertas buram yang aku jamah sejak ratusan detik lalu. Namun ternyata membacamu lebih sulit. Aku akan mempelajarimu. Memahamimu kata demi kata. Kau boleh sesekali memberiku soal ujian di setiap bagian akhir bab mu. Agar kau tau seberapa dalam aku mengerti apa yang aku baca. Berdoa saja agar suatu saat kau dapat kusampul dengan rapi dan kutulisi namaku di bagian terluarnya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment