18 March 2012

Zarry Hendrik (9)

Langit Pagi

Pagi seakan bicara dengan bahasanya sendiri, membuat geli hati yang haus akan kesenyapan. Meski tidak mengerti, aku ingin memberi senyum. Seolah aku hendak melempar sinar wajahku ke angkasa, namun kemudian pecah membentur selimut bumi.
Apakah kumpulan awan sedang saling berbagi cerita cinta yang mencengangkan? Beberapa di antara mereka pasti pernah menjadi saksi kisah aku dan bidadari. Sementara aku merasa seakan matahari benar-benar telah berdandan untuk menemuiku. Di bawahnya nanti, aku siap berkeluh kesah. 
 Kulihat ada burung-burung kecil hinggap di atas atap yang masih basah, yaitu mereka yang mencari nada tinggi untuk menyanyikan lagu tentang ranting yang telah patah. Aku jadi mendengar angin. Seperti suara tepuk sayap malaikat yang menyambut kedatangan seseorang dalam benakku. Lagi, di pagi ini, aku tertegun dalam renungan.
Setiap warna-warni pagi yang mengetuk pintu jiwaku untuk membuka mulut dan kemudian mengucap syukur kepada Tuhan, itulah dia yang aku cinta, yang menjadi warna pagiku yang paling cerah. Maka tidak percuma putihnya awan saat ada bidadari di bawahnya, meski ia tidak di sampingku lagi.
Bagiku, antara ia dan langit pagi, keduanya masih sama-sama cantik. Begitulah.

No comments:

Post a Comment