Meski akhirnya berakhir, lihatlah kita!
Berhasil berlari di jalan berliku dan berbatu dalam keadaan tanpa alas kaki adalah hebat, bukan?
Perhentian kita adalah karena sadar bahwa di ujung sana adalah kebuntuan. Ini bukan keputusan yang bodoh, tetapi keputusan yang sulit. Memang tidaklah mudah untuk berjalan mundur sambil menangisi keadaan, lalu dengan secepat kilat aku mengangkat dagu dan menatap hidup baru tanpa hadirmu. Akan tetapi palu sudah diketuk, air mata yang jatuh juga tidak mungkin kembali ketempat asalnya.
kita tidak lagi satu, di mata mereka.
Lihatlah sekarang perbuatanku!
Sekarang kau menangisinya dengan rasa sakit yang mendalam, seakan aku telah mempermalukan dirimu di depan banyak orang.
Demi Tuhan, mengambil keputusan ini adalah bukan tanpa air mata dan kepedihan.
Jadi jangan siksa aku dengan tuduhan yang bertubi-tubi, karena sekarang aku menjadi mudah sekali mati. Ketahuilah, aku merangkak dan meminta maaf.
Jadi untuk cinta dan kebaikan yang mungkin bakal dianggap klise, di dalam kesedihan yang mendalam sekarang aku melepasmu.
Karena tidak mungkin aku menunggu kamu, si manja yang pemberani, yang enggan berpikir apa yang terjadi nanti, berani memulai penderitaan ini.
Sayang,
kamu adalah milik-Nya, bukan milikku.
Zarry Hendrik
Berhasil berlari di jalan berliku dan berbatu dalam keadaan tanpa alas kaki adalah hebat, bukan?
Perhentian kita adalah karena sadar bahwa di ujung sana adalah kebuntuan. Ini bukan keputusan yang bodoh, tetapi keputusan yang sulit. Memang tidaklah mudah untuk berjalan mundur sambil menangisi keadaan, lalu dengan secepat kilat aku mengangkat dagu dan menatap hidup baru tanpa hadirmu. Akan tetapi palu sudah diketuk, air mata yang jatuh juga tidak mungkin kembali ketempat asalnya.
kita tidak lagi satu, di mata mereka.
Lihatlah sekarang perbuatanku!
Sekarang kau menangisinya dengan rasa sakit yang mendalam, seakan aku telah mempermalukan dirimu di depan banyak orang.
Demi Tuhan, mengambil keputusan ini adalah bukan tanpa air mata dan kepedihan.
Jadi jangan siksa aku dengan tuduhan yang bertubi-tubi, karena sekarang aku menjadi mudah sekali mati. Ketahuilah, aku merangkak dan meminta maaf.
Jadi untuk cinta dan kebaikan yang mungkin bakal dianggap klise, di dalam kesedihan yang mendalam sekarang aku melepasmu.
Karena tidak mungkin aku menunggu kamu, si manja yang pemberani, yang enggan berpikir apa yang terjadi nanti, berani memulai penderitaan ini.
Sayang,
kamu adalah milik-Nya, bukan milikku.
Zarry Hendrik
No comments:
Post a Comment