28 March 2012

Sesekali aku memaksa penaku untuk menari-nari di atas seuntai kertas putih. Awalnya ia menolak canggung. Lama-lama ia terbawa suasana, menari hingga lupa diri. Dan kau adalah alunan musik yang mengiringi. Begitu manis. Hingga penaku menangis. Menumpahkan airmata hitam di atas sebuah kertas. Kertas yang beberapa waktu lalu menjadi lantai dansanya. Ia mulai merangkai sajak demi sajak. Membuat sebuah musikalisasi puisi. Dengan tangga nada yang paling tinggi. Dan senja akan menyanyikannya dalam hening.

No comments:

Post a Comment